Ketika membahas negara mana yang punya sistem pemerintahan terbaik, jawaban yang muncul biasanya subjektif: nama negara yang paling sering disebut media, atau yang kebetulan familiar bagi si penjawab. Padahal negara yang disebut itu bisa jadi unggul di satu aspek tapi tertinggal di aspek lain.
Beberapa lembaga di dunia menjawab persoalan ini dengan riset yang mengukur kinerja pemerintah secara sistematis, masing-masing dengan kriteria, aspek, dan metodologi sendiri. Tujuannya sederhana: siapa pun yang membaca sebuah skor tahu persis apa yang sedang dinilai, dari mana angkanya berasal, dan kapan standar itu tepat dipakai.
Dengan bekal itu, indeks-indeks ini bisa dipakai untuk dua hal: menjawab negara mana yang secara keseluruhan punya tata kelola paling baik, dan (yang sering lebih berguna) menemukan negara mana yang paling tepat dijadikan benchmark untuk satu aspek spesifik, entah itu manajemen aparatur, keterbukaan pengadaan, atau kepercayaan publik. Berikut empat indeks dan satu pusat data yang bisa dipakai untuk kedua tujuan tersebut.
Blavatnik Index of Public Administration
Indeks ini dikelola oleh Blavatnik School of Government, Universitas Oxford, dan menilai satu hal secara spesifik: kualitas administrasi publik. Indeks Blatvatnik tidak menilai hasil kebijakan seperti pertumbuhan ekonomi, atau aspek politik seperti kebebasan pers. Fokusnya murni pada bagaimana birokrasi bekerja, atau bisa dianalogikan sebagai “mesin” pemerintahan.
Penilaiannya dibagi ke dalam empat domain:
- Strategy and Leadership menilai kapasitas pemerintah dalam merancang strategi jangka panjang, keterbukaan dan komunikasi kepada publik, integritas dan pengendalian korupsi, serta kemampuan berinovasi.
- Public Policy menilai kualitas proses pembuatan kebijakan, kualitas regulasi, manajemen krisis dan risiko, serta pemanfaatan data dalam pengambilan keputusan.
- National Delivery menilai pengawasan sistem, kematangan layanan digital, kualitas administrasi pajak, dan efisiensi layanan perbatasan.
- People and Processes menilai bagaimana rasanya bekerja di dalam birokrasi: keberagaman dan inklusi tenaga kerja, praktik manajemen sumber daya manusia, keterbukaan pengadaan, serta teknologi dan lingkungan kerja. Domain inilah yang paling relevan bila tujuannya membandingkan pengembangan kompetensi aparatur sipil.
Blavatnik Index tidak menjalankan survei sendiri, melainkan mengagregasi 17 sumber data eksternal menjadi 82 metrik, mulai dari statistik resmi (seperti ILOSTAT dari Organisasi Buruh Internasional dan basis data gender EIGE), asesmen lembaga (seperti GovTech Maturity Index Bank Dunia), hingga survei pakar (seperti V-Dem dan Quality of Government Expert Survey). “Respondennya” adalah gabungan lembaga statistik, penilai ahli, dan pejabat yang mengisi survei administratif di berbagai negara. Setiap metrik dinormalisasi ke skala 0 sampai 1 tanpa pembobotan (tidak ada metrik yang dianggap lebih penting dari yang lain), dan data yang bolong tidak ditambal dengan estimasi, sehingga sebuah negara baru masuk hitungan bila cakupan datanya memadai. Edisi 2024 telah mencakup 120 negara.
Blavatnik Index paling berguna untuk membandingkan kinerja birokrasi antarnegara secara konkret, misalnya untuk memilih negara acuan bagi reformasi ASN atau merancang program pengembangan kompetensi aparatur.
Hasil, metodologi, dan data mentah dari indeks ini tersedia di index.bsg.ox.ac.uk, dengan kode dan berkas data terbuka untuk publik di github.com/blavatnik-index.
Worldwide Governance Indicators (WGI)
Dikelola oleh Bank Dunia dan berjalan sejak 1996, WGI mengukur kualitas tata kelola pemerintahan secara keseluruhan, bukan hanya birokrasinya. Jika Blavatnik menilai “mesin” pemerintah, WGI menilai seluruh mobil, termasuk siapa yang mengemudi, cara dia menyetir, serta bagaimana si pengemudi menghadapi tantangan di jalan.
WGI menilai enam dimensi:
- Voice and Accountability mengukur sejauh mana warga bisa berpartisipasi dalam memilih pemerintah, serta kebebasan berekspresi, berserikat, dan kebebasan media.
- Political Stability and Absence of Violence mengukur kemungkinan pemerintah terguncang oleh cara-cara inkonstitusional atau kekerasan, termasuk terorisme.
- Government Effectiveness mengukur kualitas layanan publik dan birokrasi, kompetensi pegawai negeri, serta kredibilitas komitmen pemerintah terhadap kebijakannya.
- Regulatory Quality mengukur kemampuan pemerintah merumuskan dan menerapkan regulasi yang sehat untuk mendorong sektor swasta.
- Rule of Law mengukur sejauh mana masyarakat percaya dan mematuhi aturan, termasuk kualitas penegakan kontrak, hak milik, kepolisian, dan pengadilan.
- Control of Corruption mengukur sejauh mana kekuasaan publik digunakan untuk keuntungan pribadi, dari korupsi kecil sampai penguasaan negara oleh elite.
WGI sepenuhnya berbasis persepsi. Angkanya ditarik dari lebih dari 30 sumber, meliputi survei rumah tangga dan perusahaan, penilaian pakar dari lembaga riset dan organisasi nonpemerintah, serta asesmen dari lembaga multilateral dan penyedia informasi bisnis. Respondennya, dengan kata lain, adalah warga, pelaku usaha, dan para ahli, bukan catatan administratif pemerintah secara langsung. Puluhan sumber persepsi ini kemudian digabung lewat model statistik (Unobserved Components Model) menjadi skor standar pada rentang -2,5 sampai +2,5, sekaligus peringkat persentil dari 0 sampai 100.
Karena mencakup periode yang panjang, WGI paling berguna untuk melacak tren governance sebuah negara sejak 1996 dan memetakan posisinya secara makro, termasuk membandingkan dimensi politik dengan dimensi administratif dalam satu negara yang sama.
Data interaktif dan laporan WGI dapat dilihat di worldbank.org/governance/wgi.
Global Survey of Public Servants (GSPS)
Dikelola oleh konsorsium yang dipimpin Bureaucracy Lab Bank Dunia bersama beberapa universitas. Kalau Blavatnik dan WGI menilai birokrasi dari luar, GSPS menilainya dari dalam, lewat suara pegawai pemerintah itu sendiri.
Aspek yang diukur mencakup:
- Motivasi dan keterikatan kerja menggali seberapa besar dorongan pegawai untuk melayani publik dan seberapa terikat mereka pada pekerjaannya.
- Praktik manajemen sumber daya manusia menggali bagaimana rekrutmen, promosi, dan penilaian kinerja benar-benar dijalankan di lapangan, bukan sekadar bagaimana aturannya tertulis.
- Integritas dan etika menggali persepsi pegawai soal korupsi, favoritisme, dan keadilan di dalam institusi mereka.
- Lingkungan dan kepuasan kerja menggali kondisi tempat kerja, hubungan dengan atasan, dan tingkat kepuasan pegawai secara umum.
GSPS menggunakan survei primer yang terharmonisasi: kuesioner intinya dibuat sama antarnegara supaya hasilnya bisa dibandingkan, meski tetap bisa disesuaikan dengan konteks lokal. Survei dijalankan bertahap negara demi negara, umumnya bekerja sama dengan pemerintah atau lembaga riset setempat, sehingga cakupannya bertambah seiring waktu, tidak serentak seperti indeks global.
GSPS adalah pelengkap yang pas untuk skor sistem seperti Blavatnik: ia menangkap sisi manusia dari birokrasi.
Data per negara dan laporan tematik GSPS dapat dilihat di globalsurveyofpublicservants.org.
OECD Government at a Glance
Dikelola oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), laporan ini menyajikan data rinci tentang praktik pemerintahan, terutama di negara-negara maju.
Aspek yang diukur mencakup:
- Keuangan publik dan fiskal menyajikan struktur belanja pemerintah, penerimaan, dan utang.
- Sumber daya manusia aparatur menyajikan komposisi, ukuran, dan pengelolaan tenaga kerja sektor publik.
- Pemerintahan digital dan keterbukaan data menyajikan kematangan layanan digital serta ketersediaan dan pemanfaatan data terbuka pemerintah.
- Partisipasi dan kepercayaan publik menyajikan tingkat keterlibatan warga dalam proses kebijakan serta tingkat kepercayaan mereka terhadap institusi pemerintah.
Laporan utamanya berfokus pada negara anggota OECD dan kandidat aksesi, sehingga bagi negara berkembang lebih tepat dibaca sebagai acuan aspirasional. Untuk perbandingan yang lebih setara bagi Indonesia, tersedia edisi khusus Asia Tenggara yang diterbitkan bersama Asian Development Bank.
Datanya memadukan tiga jenis sumber: data administratif dan statistik resmi yang diserahkan langsung oleh pemerintah negara anggota, survei OECD kepada para pejabat pemerintah mengenai praktik dan kebijakan, serta survei persepsi warga, termasuk OECD Trust Survey yang mengukur tingkat kepercayaan publik terhadap institusi.
Laporan ini paling pas untuk benchmark aspirasional terhadap standar negara maju, atau, melalui edisi Asia Tenggara, untuk perbandingan yang lebih realistis antara Indonesia dan negara ASEAN lain.
Laporan utama tersedia di halaman resmi OECD Government at a Glance 2025.
(Honorable Mention) Quality of Government Institute
Quality of Government (QoG) Institute dikelola oleh Universitas Gothenburg, dan bukan indeks melainkan sebuah pusat data dan riset akademik. Alih-alih menghasilkan satu skor, lembaga ini mengumpulkan ratusan dataset governance dari berbagai sumber ke dalam satu basis data terstandardisasi yang bisa diunduh gratis untuk penelitian.
Kontribusi utamanya ada pada dua hal:
- Basis data terpadu menyatukan data dari WGI, V-Dem, Freedom House, dan puluhan sumber lain ke dalam format yang konsisten, sehingga peneliti bisa menganalisis lintas sumber tanpa harus merapikan sendiri.
- Kerangka konseptual menawarkan definisi “quality of government” sebagai soal ketidakberpihakan, yaitu sejauh mana negara memperlakukan warganya secara setara tanpa memandang siapa mereka. Kerangka ini memberi landasan teoretis yang sering hilang dari indeks berbasis peringkat.
Karena sifatnya sebagai pusat data, sebagian besar isinya adalah kompilasi sekunder dari dataset lain. Namun QoG juga menjalankan survei primernya sendiri, yaitu Quality of Government Expert Survey, dengan responden akademisi dan pakar administrasi publik di berbagai negara.
Basis data dan dokumentasinya tersedia di qog.gu.se.
Saat Satu Negara Kuat di Beberapa Aspek Namun Lemah di Aspek Lain
Karena setiap indeks di atas punya beberapa aspek, penilaiannya tidak perlu berhenti pada pertanyaan negara mana yang kinerja pemerintahnya paling baik (seperti membaca klasemen liga sepak bola), melainkan melangkah ke pertanyaan yang lebih berguna: negara mana yang baik dalam hal apa.
Manfaatnya ada dua. Bagi pemangku kebijakan, pembacaan per aspek memudahkan benchmark pada bidang yang spesifik. Bagi pembaca umum, sebaran skor sebuah negara memperlihatkan nilai apa yang dipegang teguh oleh negara itu.
Sebagai contoh, negara Singapura. Pada lima dari enam dimensi WGI, negara ini berada di jajaran teratas dunia, bahkan memegang skor Government Effectiveness tertinggi secara global. Namun pada dimensi Voice and Accountability, Singapura hanya berada di sekitar persentil ke-44, tertinggal dari mayoritas negara demokratis. Profil ini menceritakan pilihan nilai negaranya: legitimasi dibangun lewat hasil pembangunan yang nyata, bukan lewat kompetisi politik yang terbuka.
Pola serupa muncul dalam skala kawasan. Asia Timur umumnya kuat di Government Effectiveness tetapi lemah di Voice and Accountability, sementara Amerika Latin justru relatif baik dalam partisipasi warga namun tertinggal dalam kapasitas birokrasi. Dua kawasan besar dunia ini seakan menjadi cerminan terbalik satu sama lain.
Ketimpangan bahkan bisa berjalan ke arah yang mengejutkan. Ukraina, yang skor keseluruhannya jauh dari elite dunia, justru menempati peringkat pertama dalam keterbukaan data pengadaan pada Blavatnik Index, mengalahkan Singapura maupun negara Nordik. Keunggulan itu lahir dari krisis: pengadaan publik yang dulu merugikan negara sekitar dua miliar dolar AS per tahun memicu para aktivis antikorupsi pasca-Revolusi Maidan 2014 membangun sistem pengadaan elektronik bernama ProZorro, yang berarti “transparan”. Sistem yang diinisiasi masyarakat sipil ini kemudian diadopsi pemerintah dan diwajibkan lewat undang-undang pada 2016, dengan prinsip sederhana: semua orang melihat segalanya.
Temuan-temuan ini memberi dua pelajaran. Pertama, skor tinggi di satu aspek tidak bisa dipakai untuk menebak aspek lain, sehingga sebuah indeks lebih bermanfaat sebagai acuan untuk melihat penilaian pada beberapa aspek, bukan kesimpulan tunggal. Kedua, negara acuan boleh berbeda untuk aspek yang berbeda: belajar pengelolaan aparatur dari Norwegia dan keterbukaan pengadaan dari Ukraina bisa jadi lebih tepat daripada meniru satu negara secara utuh. Keunggulan dalam sebuah indeks, pada akhirnya, adalah peta sejarah prioritas reformasi sebuah negara.

Tinggalkan Balasan